Minggu, 31 Maret 2024

LANILAIAN TENGAH SEMESTER GENAP

PENILAIAN TENGAH SEMESTER GENAP
SMP NEGERI 1 LAREN
TAHUN PELAJARAN 2023/2024
====================================================
MATA PELAJARAN   :  PPKN
KELAS                         : 7 ( TUJUH )
====================================================

A. JAWABLAH SOAL BERIKUT DENGAN MEMILIH JAWABAN YANG PALING BENAR ! 
1. Sikap yang menunjukkan penghargaan terhadap budaya lokal adalah... 
a. Mengejek dan menghina budaya lain. 
b. Merasa malu dengan budaya sendiri. 
c. Mempelajari dan melestarikan budaya lokal. 
d. Menganggap budaya lokal tidak penting. 

2. Berikut ini adalah contoh budaya lokal yang perlu dilestarikan, kecuali... 
a. Upacara adat. 
b. Tarian tradisional. 
c. Makanan khas daerah. 
d. Pakaian adat dari luar negeri. 

3. Manfaat mempelajari budaya lokal adalah... 
a. Memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa. 
b. Memperkaya pengetahuan tentang budaya lain. 
c. Melemahkan rasa cinta tanah air. 
d. Mengurangi rasa bangga terhadap budaya sendiri. 

4. Cara yang tepat untuk menunjukkan rasa bangga terhadap budaya lokal adalah... 
a. Meniru budaya asing. 
b. Mempelajari dan melestarikan budaya lokal. 
c. Menganggap budaya lokal ketinggalan zaman. 
d. Menghina dan mencemooh budaya lokal. 

5. Dampak negatif jika tidak menghargai budaya lokal adalah... 
a. Budaya lokal semakin berkembang. 
b. Budaya lokal terancam punah. 
c. Muncul rasa perpecahan di masyarakat. 
d. Masyarakat menjadi lebih maju. 

6. Berikut ini adalah contoh perilaku yang menunjukkan sikap toleransi terhadap budaya lokal... 
a. Menolak mempelajari budaya lokal. 
b. Mengganggu orang lain yang sedang melakukan ritual adat. 
c. Mengolok-olok pakaian adat daerah lain. 
d. Menghormati dan menghargai budaya lokal yang berbeda. 

7. Sikap yang tepat dalam menghadapi globalisasi adalah... 
a. Menutup diri dari budaya luar. 
b. Menerima semua budaya asing tanpa filter. 
c. Menyaring budaya asing dan mengambil yang positif. 
d. Meninggalkan budaya lokal dan mengikuti budaya asing. 

8. Berikut ini adalah contoh upaya untuk melestarikan budaya lokal... 
a. Menganggap budaya lokal tidak penting. 
b. Mempelajari dan mempraktikkan budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari. 
c. Merusak situs budaya lokal. 
d. Mengubah budaya lokal agar sesuai dengan budaya asing. 

9. Manfaat menghargai dan melestarikan budaya lokal bagi bangsa Indonesia adalah... 
a. Memperkuat identitas bangsa. 
b. Memperlemah rasa persatuan dan kesatuan bangsa. 
c. Mengurangi rasa cinta tanah air. 
d. Mempermudah masuknya budaya asing. 

10. Mengapa kita harus menjaga dan melestarikan budaya lokal? 
a. Karena budaya lokal adalah warisan budaya bangsa yang berharga. 
b. Karena budaya lokal tidak ada nilainya. 
c. Karena budaya lokal sudah ketinggalan zaman. 
d. Karena budaya lokal tidak menarik. 

B. JAWABLAH PERTANYAAN BERIKUT DENGAN JELAS DAN BENAR ! 
1. Jelaskan mengapa penting untuk menghargai budaya lokal? 
2. Sebutkan beberapa contoh sikap yang menunjukkan penghargaan terhadap budaya lokal! 
3. Berikan contoh bagaimana budaya lokal di daerah Anda dapat membantu menyelesaikan permasalahan di era globalisasi!

Sabtu, 12 Februari 2022

Nyemak Watak Tembang Dhandhanggula

Tembang macapat jinise ana 11. Saliyane nduweni paugeran kang pinathok saben jinis tembang macapat uga nduweni watak dhewe-dhewe. Kanggo luwih cethane ngenani watak tembang macapat bisa dideleng ing tabel ngisor iki:  


 Mligi watak tembang Dhangdhanggula, watake luwes lan manis. Watak luwes tegese watak kang kinandhut ing tembang Dhandhanggula kanggo medhar rasa pangrasa, bisa isi pitutur, piwulang, tresna asih, asah, lan asuh. Watak manis tegese pamedhare pitutur, piwulang, tresna asih kanthi tetembungan sing manis, endah, lan kebak pasemon ing pangajab nuwuhake rasa pangrasa luwih nges.

Dhandhanggula

 Nyemak Struktur Teks Tembang Dhandhanggula.

 Tembang macapat iku minangka salah siji wujud tembang tradhisional ing tlatah Jawa. Diarani macapat amarga olehe nembangake pedhotane 4-4, uga ana kang ngandharake manawa macapat iku saka tembung ma + cepat, iki amarga manawa nembangake macapat mung rerikatan bae, ora nganggo wiledan utawa elak-eluking swara kang njalari dadi suwene. Tembang macapat kalebu tembang tradhisional, amarga kaiket ing aturan/paugeran tartamtu. Paugeran-paugeran jroning tembang macapat, yaiku:

 1) Guru gatra yaiku cacahing gatra/larik/baris ing saben pada. Cethane, saben sapada (satembangan) tembang macapat apa bae wis di tentokake cacahing gatrane. 

2) Guru wilangan yaiku cacahing wanda ing saben gatra. Cethane, saben gatra/larik tembang macapat apa bae wis ditemtokake cacahing wandane 

3) Guru lagu yaiku tibaning swara/dhong-dhinging swara ing pungkasaning gatra. Cethane, saben gatra/larik tembang macapat apa bae wis ditemtokake tibaning swara ing pungkasaning gatra mau, bisa a, i, u, e, utawa o. 

Supaya luwih gamblang, paugeran-paugeran saben tembang macapat kang cacahe ana 11 (sewelas) iku bisa kogatekake ing tabel iki. 

Tembang Macapat iku cacahe ana 11 (sewelas), dene jeneng-jenenge tembang Macapat lan paugerane kaya kasebut ing ngisor iki : 

Selasa, 31 Maret 2020

Cara nembang/menyanyikan tembang Dhandhanggula


Salah satu ragam tembang macapat yaitu tembang dhandanggula. Tembang ini sendiri berada pada urutan ketujuh dari kesebelas tembang macapat. Tembang ini memiliki watak gembira, manis, dan luwes.

Sesuai dengan wataknya, tembang ini memiliki sebuah filosofi yaitu harapan yang indah. Selain itu, ia juga melambangkan suatu kecocokan yang indah.

Adapun beberapa karakteristik dari tembang dhandhanggula adalah sebagai berikut:
1. Mempunyai guru gatra sepuluh baris
2. Mempunyai Guru Wilangan : 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7
3. Memiliki Guru Lagu : i, a, e, u, i, a , u, a, i, a

Nah, setelah mengenal sedikit filosofi dan karakteristik dari tembang dhandhanggula, penulis akan men-share bagaimana cara menyanyikan tembang dhandanggula dengan baik dan benar 

Cara Menembangkan Tembang Dhandhanggula

Dhandhanggula adalah tembang yang sangat unik. Rasa dan penjiwaan sesuai dengan karakternya yang terbilang kompleks membuatnya termasuk ke dalam jajaran tembang yang cukup sulit untuk ditembangkan.

Disamping itu, cara menembangkannya yang terbilang unik ini terkadang begitu memikat perhatian. Untuk bisa menembangkan tembang dhandhanggula dengan baik dan benar, kita perlu menguasai teknik vokal yang memadai.

Namun demikian, baik menyanyi maupun menembang dapat kita lakukan secara alamiah dalam alam bawah sadar kita untuk bisa mennyanyikan / melagukan kata-kata (syair) yang ada sesuai dengan nada atau iringan musik sehingga tak terdengar fals.

Langsung masuk ke intinya, cara menembangkan tembang dhandanggula yaitu di awal kita dituntut untuk bisa bernyanyi dengan nada setinggi mungkin dalam range vokal yang kita miliki. Sementara itu, masuk ke pertengahan sampai akhir tembang kita akan bernyanyi dengan nada yang semakin menurun dan menurun hingga titik nada terendah yang bisa kita nyanyikan.

Disitulah tantangan sebenarnya dalam menembangkan tembang dhandhanggula. Kita harus bisa mengontrol suara dari awal hingga akhir syair tembang dengan cara melagukan yang tidak konstan, yaitu dengan nada dan suasana yang berubah-ubah setiap baris maupun bait syair dari tembang tersebut.

Tips dan Trik Menembangkan Tembang Dhandhanggula 

Agar bisa menembangkan tembang dhandhanggula dengan baik dan lancar hingga akhir syairnya, kita harus benar-benar memperhatikan beberapa faktor seperti pernafasan, pengucapan kata (artikulasi), juga strategi dalam pengambilan nada.

Ukur dahulu kemampuan vokal yang kita miliki masing-masing. Jangan memaksakan diri untuk mengambil nada yang begitu tinggi yang kita kesulitan untuk menjangkaunya. Bisa-bisa nanti perpindahan nadanya dari baris satu ke baris lainnya meleset atau kurang tepat.

Namun demikian, jangan pula terlalu rendah mengambil nada di baris syair awalnya. Bisa-bisa nanti suara kita dipertengahan maupun akhir syair tembang akan menjadi tak terdengar karena mengindahkan aturan menembangkan tembang dhandhanggula itu sendiri yang harus dilagukan dengan nada yang semakin menurun dan menurun dari awal hingga akhir tembang.

Maka dari itu, pastikan kita dapat mengambil nada yang tepat sehingga nantinya kita tidak kuwalahan dalam menembangkan tembang ini.

Terakhir, sebelum mulai nembang, ada baiknya kita mengambil pemanasan vokal terlebih dahulu yaitu dengan mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Setelah itu, kita bisa mengucapkan vokal a, i, u, e, o guna meningkatkan insting kita dalam mencari kesesuaian antara nada dan vokal kita.

Di bawah ini adalah contoh dari tembang dhandhanggula lengkap dengan notnya yang bisa sobat gunakan untuk berlatih nembang.

DHANDHANGGULA - Turulare ( Laras Pelog Patet Enem )

6       1       2       3       ,      6       1       2       2       2      2
Ing   kang  ka    mot          ing    su      rat    Al  -  A  -  shri
1       5       65     3       ,      3       5       6       6       6       6
Su    rat     ing   kang         ka     ping  sa     tus     ti       ga
6       5       3       2       ,      3       1      2 1     6
Mungte    lung   a       -      yat    ca  -  cah  - e
6       1       2       2        2       3      12
Ka    pi     san     te       ges    I      pun
6        5      21      1       ,      1      1       1        1       1
Dhe   mi    wek   tu             u      ta      wi      wan   ci
3        5      5        5        5      56     56
Mang ko   no      wer     di      ni      ra
2        2      3        1         2 1    6
Wi     ga    ti      ning       wek  tu
6        1      2        3          3       3       3       3
Da    tan    nge   mung  -  a  -    ke     A   - shar
3       3      21       21     ,       1       1       1       1       1      2      3      3
A      ji      ning    wek          tu     yek    ti      tan    pa     u      pa    mi
3       3       3        2         23     12      2
Ywa kong si       tan        pa     gu      na

Semoga bermanfaat. 

Aksara Murda


Mengenal lebih mudahnya, aksara Murda merupakan sejenis huruf kapital di dalam jenis aksara Jawa. Aksara Murda ini secara khusus dipakai untuk menulis jenis huruf depan suatu nama orang, nama tempat, atau kata-kata lain yang awalnya memakai huruf kapital.
Selain itu, jenis aksara ini juga digunakan di awal sebuah paragraf atau awal sebuah kalimat.
Di antara kegunaan dari aksara ini adalah untuk menuliskan nama gelar, nama orang, nama geografi, nama lembaga pemerintahan, serta nama lembaga yang berbadan.
Karena kata-kata tersebut di dalam bahasa Indonesianya menggunakan huruf besar, maka dalam bahasa Jawa menggunakan aksara khusus yang dikenal dengan aksara Murda ini.
Namun, penting untuk dijadikan catatan bahwa tidak semua aksara yang terdapat di Hanacaraka terdapat bentuk aksara Murdanya. Setidaknya hanya ada delapan buah aksara Murda. Aksara ini juga memiliki bentuk pasangan tersendiri yang fungsi atau kegunaannya sama dengan pasangan di dalam aksara Jawa.